Author Archive

Training Toilet

🚰 TOILET TRAINING 🚰

Halo Ayah Bunda, ada yang sedang dalam fase melatih si kecil toilet training? Gimana stok sabarnya, masih aman terkendali kan? 😄

Toilet training ini memang salah satu milestone besar buat balita. Dan tidak seperti milestone lainnya, toilet training ini membutuhkan bimbingan yang intens, waktu dan kesabaran yang banyak. Bahkan ada psikolog yang menyebut toilet training ini sebagai one of the big parenting war. Setuju nggak, Ayah Bunda?

Tapi meskipun begitu, dengan trik dan metode yang tepat, si kecil bisa kok sukses toilet training. Bahkan dalam waktu yang relatif singkat.

🍄 Ini dia beberapa trik toilet training:

1. Pastikan orang tua dan balita sama-sama siap.

Untuk orang tua, jelas ya. Karena kita yang akan menghadapi langsung. Harus jaga emosi dan memperbanyak stok sabar. Kita juga harus menjaga jangan sampai menjugde saat anak ‘kelepasan’ pup atau pipis di celana. Stay calm, dan terus sounding terkait aturan toilet training ini.

Nah, kalau untuk balita, umumnya akan siap dilatih toilet training saat otot-ototnya mulai dapat mengontrol kandung kemih. Biasanya di usia 18 bulan ke atas. Selain itu ditandai juga dengan kesiapan fisik dan emosi serta bahasa di usia 2-3 tahun.

Jika si kecil sudah bisa duduk tegak, diapernya kering 2-3 jam, mampu memahami instruksi sederhana dan sudah mampu mengatakan keinginannya, maka insya Allah dia sudah siap masuk ke fase toilet training.

2. Biasakan kegiatan kamar mandi

Ayah Bunda bisa mulai dengan mengenalkan kegiatan kamar mandi pada si kecil. Biasakan pipis dan pup di potty chair. Biarkan ia memilih agar ia suka menggunakannya.

Perlihatkan ketika Ayah Bunda membuang dan mem-flush kotorannya dari popok di kloset.

Ceritakan secara sederhana fungsi toilet dan cara menggunakannya, cara pipis dan pup, jelaskan tentang alat kelamin dan fungsinya, bacakan cerita atau dongeng tentang pispot/toilet, dan belikan ia celana dalam seperti layaknya anak sudah besar.

3. Atur jadwal dan konsisten

Mengatur asupan cairan dan makanan ke tubuh balita diperlukan untuk mengatur interval ke kamar mandi. Amati jadwal siklus pipis dan buang air besarnya, misalnya si kecil biasa pup sekitar jam 9 pagi dan pipis 2 jam sekali.

Siklus pipis dan pup ini memudahkan Ayah Bunda mengajaknya menyalurkan dorongan pipis dan pup di tempat dan waktu yang tepat.

Pastikan pula Ayah Bunda mampu secara konsisten melaksanakan jadwal yang sudah diterapkan sehingga tidak terjadi kebingungan.

4. Apresiasi

Rayakan bila ia berhasil melakukan pipis dan pup dengan benar. Hadiahi dengan pujian, atau bisa menggunakan reward berupa stiker lucu dan menarik.

Kalaupun terjadi ‘kelepasan’, pasang saja wajah datar sembari sounding bahwa pipis atau pup itu tempatnya di toilet. Hindari untuk menghukumnya ya, Ayah Bunda. Karena wajah marah dan kecewa kita hanya akan membuatnya takut dan malah berakibat si kecil tidak mau bilang kalau ingin pipis atau pup.

5. Metodenya apa ya?

Nah, Ayah Bunda, untuk metode toilet training sendiri cukup banyak. Ada yang pakai metode kasual yang tanpa tatur (mengajak anak secara berkala ke toilet). Jadi cukup menanyakan apakah anak ingin ke toilet jika Ia menunjukkan sinyal ingin pipis atau pup.

Ada juga yang memakai metode 3 hari, yang sesuai namanya katanya metode ini membuat anak sukses toilet training hanya dalam waktu 3 hari saja. Caranya dengan menyiapkan waktu khusus, biasanya di weekend agar lebih maksimal untuk melatih si kecil.

Ada juga metode deadline. Jadi metode ini berfokus pada hasil akhir, misalnya tujuannya agar saat masuk preschool nanti, anak sudah terampil potty training. Katakan pada anak agar bisa masuk preschool, ia mesti berlatih ke kamar mandi setiap ingin pipis atau pup. Jika perlu, buat juga jadwal jam berapa saja anak perlu ke toilet.

Pilihan ada di tangan Ayah Bunda, mana yang sekiranya paling cocok dan paling mudah diikuti. Dan seperti yang sudah ditulis di awal artikel ini, bahwa toilet training memang milestone besar yang butuh bimbingan intens, waktu dan kesabaran yang banyak. Tapi Ayah Bunda dan si kecil pasti bisa! 😍

Semangaaat^^

-Sumber elhana-

Sabaqu

Haiii bunda, haii ayah…sudah tahu belum kalau ada produk terbaru dari #MandiraDian Semesta.
kalau belum tahu sini sini di kasih tahu ^_^

Taraaaaaa…..nama nya #Sabaqu

Sabaqu adalah permainan inovatif untuk membantu anak belajar secara menyenangkan. Dengan mekanisme “periksa sendiri jawabanmu”, yang akan mendorong anak untuk belajar mandiri.

Mengapa nama SabaQu?
Nama SabaQu terinspirasi dari “sabak”, yaitu buku catatan masa lampau yang digunakan sebelum ada buku tulis. Dahulu, alat ini digunakan oleh siswa untuk belajar di sekolah. Kini, sabak sejatinya tidak hilang, namun mewujud perangkat digital seperti komputer tablet, yang fungsinya—jika digunakan bijaksana—juga untuk belajar.
Kenapa huruf “Q”?
Huruf Q, dalam desain logo SabaQu, menggambarkan lup (kaca pembesar). Seperti kita tahu, alat ini membantu kita melihat benda kecil menjadi lebih besar, memperjelas objek agar lebih mudah dipelajari.
Dengan spirit belajar inilah, nama SabaQu kami pilih.

Siapa pengguna SabaQu?
Anak usia 6-10 tahun

1. Bahasa Indonesia (20 lembar)
2. Bahasa Inggris (20 lembar)
3. Matematika (20 lembar)
4. Logika (20 lembar)

Spesifikasi :
^ Kotak SabaQu plastik
^ Lembar bermain fullcolor, art carton 310 gram, laminasi doff
^ Keping warna busa eva

Bagaimana cara bermain SabaQu?
_ Posisikan lembar soal yang ingin dimainkan pada kotak SabaQu.
_ Ikuti petunjuk soal.
_ Pindahkan keping warna ke lubang di sebelah jawaban yang dipilih.
_ Lakukan terus hingga semua soal dijawab.
_ Balik kotak SabaQu untuk mengecek jawaban.
_ Jika warnanya bersesuaian, jawaban kamu benar ^_^

Yuuk bund, ayah jadilah orang yang beruntung utuk memiliki Sabaqu dengan cara ikuti masa Po nya.
jadikan hari-hari si kecil lebih berkesan.

More Info :
Wa 08179518643 (Dina)
www.rumahraisha.com

Busy Book Happy Ramadhan

BUSY BOOK HAPPY RAMADHAN

✅ Bahan: kertas ivory yg dilaminasi + flanel
✅ Jumlah hal: 20
✅ Berat: 500 g

✅ 1 paket terdiri dari:
* busy book
* 4 boneka jari
* 1 template lampion
* sayur buah dr flanel
* tas kain untuk tempatnya
✅ untuk usia 2-5th

✅ Harga normal 195rb
✅ *Harga PO 180rb*
✅ PO 26 maret – 10 april

✅ pembayaran: 50% di awal, sisanya saat brg ready
✅ ready insyaallah 7-10 Mei

*Konten*
1. Rukun islam
2. Rukun iman
3. Waktu sholat
4. Hijaiyah
5. Angka arab
6. Doa2
7. Warna dan bentuk
8. Maze

*Aktivitas*
1. Membedakan besar kecil
2. Melepas dan menempel
3. Membedakan warna dan bentuk
4. Buka tutup ritsleiting
5. Melepas dan memasang tali
6. Menganyam ketupat
7. Berhitung 1-10

Tunggu apa lagi…? berikan aktivitas yang berkualitas untuk anak kita di Bulan Ramadhan yuk, Bunda.. 😘

Ceria Ramadhan Tahap 2

Dibuka kembali tahap ke 2 sampai dengan 10 April 2018.

CERIA RAMADHAN DI 5 BENUA – 25 NEGARA

Dalam buku ini, kalian akan menjelajahi 25 negara di 5 benua untuk melihat bagaimana teman” dari berbagai negara itu belajar berpuasa dgn berbagai tantangan dan kondisi cuaca yang beragam. Selain itu, kalian juga bisa melihat sejarah dan budaya penduduk dari berbagai negara itu.

Buku ini ditulis oleh penulis yang pernah tinggal di negara” tsb menjadikan cerita dalam buku ini lebih hidup.

Yang akan kamu temukan dalam buku ini
* Cerita tentang anak” dari 25 negara
* Ulasan kebiasaan” dan fakta” unik saat bulan Ramadhan di 5 benua
* Cerita yang lbh hidup dan faktual karena sebagian besar penulis pernah tinggal di negara yang diceritakan
* Gambar” full color yang sangat keren dan menarik.

Angka-Angka Dalam Al-qur’an

Angka Quran:
Beberapa konsep dari buku ini yang perlu Bunda baca dan ketahui terlebih dahulu

1. Kenapa harus font tertentu yang digunakan untuk penulisan angka?

Dalam pembelajaran metode Montessori font yang digunakan biasanya menggunakan century gothic, primer print, print clearly, dan juga zuben.

2. Kenapa angka 1-nya harus lurus? Kenapa angka 4-nya harus terbuka?

Karena mengikuti kaidah Montessori

3. Kenapa teksnya sedikit? Kenapa kisah tidak di halaman isi buku juga?

Teks sedikit disebabkan buku ini untuk anak-anak. Pada usia balita (terlebih anak yg belum bisa membaca), anak-anak masih lebih tertarik pada gambar dibandingkan tulisan sehingga lebih cocok buku yang bersifat wordless..

Kisah tidak disertakan di dalam buku sebab saya berharap orangtualah yang menceritakan kisah-kisah tersebut kepada anak-anak.

Selain sebagai sarana bounding antara orangtua dengan anak, tentu saja agar orangtua lebih sering lagi membaca kisah dalam Al-Qur’an dan Al-Qur’an itu sendiri..

4. Kenapa warna angkanya tidak warna-warni, misalnya bentuk angka 1-nya merah, angka 2-nya biru, dll? Kenapa harus hitam semua?

Sebab kita sedang mengenalkan angka, bukan mengenalkan warna. Dengan menggunakan satu warna saja maka anak akan lebih fokus.

5. Kenapa ada bulatan di tiap halaman yang tersusun demikian dan berwarna merah?

Bulatan ini merupakan konsep dari salah satu aparatus Montessori yang bernama cards and counter.

Cards adalah kartu bertuliskan angka, dalam buku ini diwakilkan oleh angka itu sendiri.

Sedangkan counter adalah bulatan-bulatan kecil berwarna merah yang disusun sedemikian rupa. Penggunaan counter yang disusun secara vertikal ini nantinya akan memudahkan anak dalam memahami konsep bilangan ganjil dan genap.

Promo Maret 18

Promo Alqolam & Tira

* Promo Rumpen

* Promo MDS

Nabiku Idolaku

NABIKU IDOLAKU KINI HADIR KEMBALI ^_^

Haay…para bunda sholihah,,bagaimana kabar nya? Mudah2an senantiasa sehat & dalam lidungan Allah Swt Aamiin….
Para Bunda yang sudah punya NBI dijaman PO dahulu pasti sudah ga asing lagi sama produk yang satu ini yaaa
Naah sekrang Mandira Dian Semesta menghadirkan kembali buku yang menjadi hits di era nya terdahulu ini.
Hmmm kita simak yuuk 🙂

NBI sekarang di bagi menjadi 3 para bunda.

1. Nabiku Idolaku Balita
NBI Balita ini hadir dalam format boardbook sebagai pintu masuk bagi anak-anak, khususnya balita dalam mengenal
kisah 25 Nabi & Rasul. Produk ini di kemas secara mungil, disajikan dengan pilihan kata yang pas bagi anak,
cerita nya di sampaikan dengan ringkas dan padat sehingga isinya mudah di pahami.

2. Nabiku Idolaku Anak
Selanjutnya, di produk paket Nabiku Idolaku ada 6 Jilid Kisah Tokoh dalam Al-Quran
Berisikan kisah tokoh-tokoh yang sering diungkapkan dalam Al-Quran: Maryam, Khidir, Thalut, Qarun, Luqman, dan
Zulkarnain. Ilustrasinya sangat menarik, disajikan dalam bentuk tiga dimensi.
Yuk kenalkan para nabi dan rasul Allah dengan cara yang seru dan menyenangkan ^_^
Selain 6 jilid kisah tokoh dalam Alqur’an ada juga 3 jilid utama kisah Nabi & Rasul teladan sepanjang zaman.
hmmm lengkap ya bun??

3. Nabiku Idolaku Full Set+Epen.
Naaah kalau yang ini perpaduan anatara NBI balita & NBI anak bun.
Pluss di lengkapi Epen nya lho bun. Pokok nya ini lebih lengkap disertai Main Yuk juga.
hmmm pasti akan menarik ya bun 🙂

Lebih lengkap nya langsung masuk ke Etalase klik Mizan Dian Semesta terus klik Nabiku Idolaku ya bun 🙂

Silahkan menjelajah di Rumah Raisha 🙂

,Promo Januari 18

Promo Tira & Alolam :

Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu

Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Penggagas Program 1821 Kumpul Keluarga

Saya sering mendengar dan membaca sebagian ibu di luar sana mengatakan kalimat semacam ini:

“Abah Ihsan, suami saya melarang saya ikutan belajar parenting karena katanya ‘teori doang’ bukti nyata, tidak ada. Suami saya juga berkata, dia tak ikutan parenting sana sini, buktinya dia lebih sabar menghadapi anak. Sedangkan saya masih saja tak sabaran”.

Atau “Abah Ihsan, saya malu sebenarnya sama suami saya, tapi merasa beruntung juga. Suami saya tuh sabar banget menghadapi anak dan lebih sabar menghadapi anak daripada saya. Saya yang sudah ikutan belajar parenting lebih sering ke sana kemari malah masih sering kurang sabar dengan anak”.

Boleh tidak setuju dengan saya. Para ayah normalnya memang secara alamiah: lebih sabar berlipat dari istri! Ini keumuman. Bahwa ada yang tidak sesuai keumuman, ya normal saja. Meski tidak pernah belajar parenting ke sana kemari sekalipun. Ini normalnya loh! Bahkan setidaknya 3x lipat lebih sabar daripada ibu. Kenapa?

Ada banyak faktor. Faktor utama adalah tentang durasi pertemuan ayah bertemu dengan anak jauh lebih sedikit dibandingkan si ibu. Kekurangan waktu ini kemudian dibayar dengan kesabaran dan rasa kasih yang memang belum disalurkan sejak berpisah dari pagi dengan anak.

Ini sekadar ilustrasi kasar. Jangan fokus ke akurasi angkanya, ini sekadar sampel ilustasi saja. Tiap keluarga bisa memiliki kondisi berbeda, ini hanya keumuman.

Anggap di akhir pekan libur, Sabtu – Minggu, suami istri sama-sama punya skor yang sama berperan di keluarga. Lalu Pada hari kerja Senin – Jumat, katakanlah istri berperan sebagai ibu penuh waktu “mom stay at home”. Selama bangun dari subuh pukul 04.30 sampe anak tidur 21.00, jam dengan anak (asumi anak belum sekolah), maka jam pertemuan ibu dengan anak: 16,5 jam.

Ayah? Setiap Senin – Jumat katakanlah ayah ini menjadi ayah yang punya peran selain pencari nafkah, juga melibatkan diri berkontribusi dalam urusan keluarga. Setiap pagi, mulai bangun subuh, ngajak ke masjid, dan “quality time activity” lainnya di pagi hari 04.30-07.00, berarti jam pertemuan dengan anak 2,5 jam di pagi hari.

Lalu di sore dan malam hari, pulang kerja sampai rumah pukul 18.00. Sejak pukul 18.00 asumsikan “doi” yang merasa bertanggung jawab ini, mengambil peran lagi, melaksanakan program 1821, ngajak anak ke masjid, menemani anak belajar, “story time”, mengantarkan anak ke tempat tidur sampai jam 21.00 berarti 3 jam.

Total jendral pertemuan ayah dengan anak Senin-Jumat: 5,5 jam. Ibu? 16,5 jam. Kira-kira perbandinganya: 1:3.

ITU PUN JIKA SI AYAH IKUT NGURUS LOH YA. Lah kalau mereka masih beranggapan urusan anak hanya urusan ibu gimana?

Jika mau hitung-hitungan, ayah memiliki jam pertemuan dengan anak 3x lebih sedikit daripada ibu. Jadi normalnya ayah 3x lipat lebih sabar daripada ibu.

Karena itu, saya sering mengatakan pada para ayah yang mengaku lebih sabar dari istri:

Coba ayah urus anak selama 7 hari berturut-turut, tanpa istri tanpa pembantu. Sendirian! Ingat ya sendirian. Cukup dari 07.00-18.00.

Apakah setelah itu, Anda merasa lebih sabar dari istri?

Apa yang akan terjadi, jika Anda lakukan selama 365 hari?

Apakah setelah itu, Anda merasa lebih sabar dari istri?

Cobalah gantikan peran istri Anda di rumah. Urus rumah dan anak tiap hari dari pagi. Selain rutinitas yang sama tiap hari menghadapi pemandangan yang sama: dapur, kasur, ketemu tukang sayur.

Apakah setelah itu, Anda merasa lebih sabar dari istri?

Saya tidak tahu jawaban Anda. Tapi yang saya tahu ketika saya tanyakan ini pada ribuan ayah yang ikuti kelas-kelas pelatihan saya, mereka menjawab “oh tidaaaak!” Bahkan ada yang berkata “jangankan 7 hari Abah, 1 hari aja pusing!”

Saya tidak tahu jawaban Anda. Tapi yang saya tahu ketika puluhan ayah di Korea Selatan ditantang ngurus anak hanya sekira 2×24 jam tanpa istri, dalam sebuah acara “reality show” tv korea, hampir semua ayah ini kerepotan luar biasa yang membuat sebagian besar ayah ini wajib merasa berterima kasih kepada istrinya.

Tak sedikit bahkan, setelah tantangan selesai, sebagian ayah hampir sujud-sujud dan minta maaf sama istrinya. Karena mereka sudah merasakan: tidak mudahnya menjadi seorang ibu.

Ini tidak berarti laki-laki harus melakukan semuanya, tidak berarti juga harus bertukar peran, apatah lagi melandaskan kebenaran dengan “reality show” Korea. Saya juga tidak mengatakan bahwa perempuan lebih tinggi derajatnya daripada laki-laki atau sebaliknya. Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan siapa yang lebih tinggi derajat atau tidak.

Saya hanya ingin mengajak laki-laki berempati, syukur jika belajar bersama dengan istrinya.

Jika tidak, setidaknya tidak menegasikan atu melemahkan semangat istrinya yang tengah berikhtiar belajar pengasuhan (parenting). Mungkin hasilnya tidak selalu persis seperti yang diharapkan. Tapi insya Allah ada perbedaan orang yang belajar dengan yang tidak.

Karena itu, ini pesan saya buat para Ayah demi menjaga kekuatan energi istri Anda, setidaknya 3 hal:

Pertama, jika Anda melihat istri mulai marah-marah tidak jelas, emosian tidak jelas, bantu istri Anda: “Sini anak-anak sama Ayah.” Atau “Ada yang bisa Ayah bantu, Bunda sayang?”

Kalimat sederhana itu akan membuat semangat mereka terjaga. Itulah suami yang bertanggung jawab. Bukan malah “kamu nih gak bener mendidik anak, yang sabar dong!”

Atau saat anak ngacak-ngacak rumah, istrinya berkata “jangan diacak-acak, main yang lain,” eh suaminya berkata “tidak apa! Namanya anak-anak.”

Sekilas memang benar perkataan suaminya jika memang setelah itu suami yang membereskan. Hal yang membuat tambah emosi istrinya karena setelah itu bukannya suami yang membereskan, tapi kemudian yang diminta membereskan justru istrinya, padahal dari pagi si istri sudah melakukan pekerjaan semacam itu.

Gampang jika hanya menyalahkan! Tapi jika pun salah, sebagai “imam”, sesalah apapun istri kita, itu juga kontribusi kita di dalamnya yang tidak sensitif terhadap situasi istri.

Jika situasi berulang terlalu sering, saatnya istri Anda, “diupgrade” suasana hatinya dan “upgrade” kompetensinya. “Upgrade” suasana hati dengan memberikan istri untuk melihat “pemandangan” berbeda. Jalan-jalan sepekan sekali, “couple time” tanpa anak dengan kita setidaknya sebulan sekali, keluar kota setahun 2x.

“Upgrade” kompetensi istri dengan berikan kesempatan istri belajar. Bantu ia untuk menghadiri majlis-majlis ilmu: seminar parenting, beli buku, halaqoh, dauroh, gabung komunitas yang baik-baik dll. insya Allah ini semua akan membantu.

Kedua, hentikan meremehkan perkara-perkara yang mungkin menurut kita sepele tapi tidak menurut mereka. Jangan biasakan ngomong pada istri “lebay deh”. Karena kita tidak merasakan situasi seperti mereka. Ingat ya, yang lebay menurut kita bisa jadi serius menurut orang lain.

Ketiga, untuk merasakan energi empati, sesekali sediakan waktu setidaknya 1x sepekan urus anak sendiri dari pagi sore, tanpa istri. Saya sering melakukannya, dengan 6 anak saya, saat istri ngaji ada acara dll. “Boleh bawa anak abah?” Saya katakan “Tidak! Itu acara ummi, bukan acara anak-anak.”

Saat saya menjaga semua anak saya jalan ke mall atau jadi “dad stay at home!” Beuh! Berasa… Berasa sekali bray, betapa hebatnya istri kitah!

Lalu untuk para ibu, jangan pernah menyerah dan jadi inferior “saya masih emosi gak sabar” dll. Normal moms shalihah.. Normal!

@abah ihsan official