“OBESITAS” TERNYATA TAK SELAMANYA BERBAHAYA

oleh dr. Dina Adriana, SpGK

Obesitas dikenal oleh kalangan awam sebagai “kegemukan” atau “berat badan berlebih”. Obesitas juga sering dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan seperti diabetes melitus, hiperkolesterolemia, hipertensi, stroke, bahkan kanker. Namun, apakah betul begitu? Mari kita coba uraikan perlahan-lahan definisi obesitas agar semakin paham dan kenal bahayanya.

Menurut organisasi kesehatan dunia, obesitas didefinisikan sebagai penumpukan massa lemak berlebihan pada tubuh seseorang. Manusia membutuhkan energi untuk dapat beraktivitas dan mempertahankan metabolisme normal. Energi ini utamanya didapatkan dari luar, yaitu makanan dan minuman. Setiap kali kita makan ataupun minum, maka makanan dan minuman tersebut, baik yang mengandung karbohidrat, protein, maupun lemak, kemudian akan mengalami serangkaian proses pencernaan di dalam tubuh kita. Semua jenis nutrisi makro ini akan dipecah menjadi gula sederhana (karbohidrat) yang selanjutnya akan diubah menjadi energi. Energi inilah yang kemudian digunakan oleh tubuh untuk kerja organ dan aktivitas lainnya.

Jika energi yang tersedia masih banyak sedangkan tubuh sudah tercukupi kebutuhannya, maka sisa bahan bakar ini (glukosa) akan diubah menjadi bentuk cadangannya, yaitu gula otot (glikogen otot), gula hati (glikogen hepar), dan jika masih berlebih juga maka akan diubah menjadi bentuk lain yaitu trigliserida yang disimpan dalam kantong-kantong lemak. Maka obesitas dihasilkan dari ketidakseimbangan antara energi yang masuk (dari makanan dan minuman yang dikonsumsi) dengan energi yang dikeluarkan (segala aktivitas, baik yang disadari maupun yang otomatis). Sudah tahu kan sekarang, mengapa orang obesitas dan overweight banyak menumpuk lemak di tubuhnya?

Ada cara untuk menentukan apakah seseorang masih memiliki berat badan yang ideal atau sudah berada pada kondisi berisiko kesehatan terkait obesitas, yaitu dengan melakukan pengukuran IMT (indeks massa tubuh). Lakukan pengukuran berat badan pada pagi hari saat bangun tidur dan belum makan-minum, namun sebaiknya sudah mengosongkan isi usus dan kandung kemih. IMT dihitung dengan rumus berat badan (dalam kilogram) dibagi tinggi badan dikuadratkan (dalam meter). IMT 18,5-22,9 kg/m2 dikategorikan sebagai normoweight. Jika hasil perhitungan menunjukkan 23,0-24,9 kg/m2 artinya sudah mengalami kelebihan berat badan (overweight), atau obesitas bila nilainya mencapai 25,0 kg/m2 atau bahkan lebih.

Klasifikasi Obesitas berdasarkan Kriteria WHO dan ASIA PASIFIK. Di Indonesia, kita menggunakan kriteria ASIA PASIFIK.

Apakah IMT normal artinya tidak berisiko? Belum tentu. Karena selain berat badan yang berlebih, ada yang lebih berbahaya, yaitu lingkar perut yang besar. Masalah timbul bila BB berlebih ini disebabkan oleh penumpukan massa lemak. Yang lebih berbahaya adalah tingginya massa lemak visceral, yaitu lemak yang membungkus organ-organ dalam kita, seperti jantung, hati, usus, dan lainnya. Biasanya hal ini ditandai dengan membesarnya lingkar perut. Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran lingkar perut dengan cara sebagai berikut. Pertama, siapkan meteran jahit untuk alat mengukur. Orang yang akan diukur menggunakan pakaian yang tipis atau minimalis, berdiri tegak. Kemudian, ukur lingkar perut terbesar mulai dari tonjolan tulang pada panggul kanan dan memutar sampai ke tonjolan tulang panggul kiri. Jika hasilnya >80 cm pada wanita, atau >90 cm pada pria, maka sudah perlu berhati-hati dan melakukan upaya modifikasi pola hidup menjadi lebih sehat.

Sebaliknya, apakah IMT yang tinggi sudah pasti berbahaya? Jawabannya juga belum tentu. Berat badan yang tinggi, jika isinya adalah massa otot, maka hal ini baik. Kita bisa mengambil contoh ekstrim para binaragawan, yang otot tubuhnya sudah dilatih sehingga mencapai ukuran yang besar, jika dilakukan pengukuran IMT cenderung akan didapati hasil yang besar. Namun, massa otot ini justru tempat untuk melakukan pembakaran energi, karena di dalam sel-sel otot banyak terdapat organel sel bernama mitokondria yang berfungsi mengubah bahan bakar sel (glukosa) menjadi energi. Masalah dapat muncul di kemudian hari, yaitu apabila binaragawan sudah tidak melakukan latihan yang seperti biasanya, sehingga massa otot yang banyak itu lama kelamaan akan digantikan tempatnya oleh massa lemak.

Mengapa massa lemak yang berlebihan dapat menimbulkan bahaya? Pertama, dari segi anatomis, tumpukan lemak yang banyak dapat mengganggu gerakan. Pada orang gemuk, lemak banyak ditimbun di bawah kulit. Area wajah, leher, perut, lengan, paha, serta bokong biasanya menjadi tempat-tempat yang lebih banyak menimbun lemak. Timbunan lemak di daerah leher dan perut dapat menyebabkan gangguan saat bernapas dan menimbulkan gangguan kesehatan yang disebut obstructive sleep apnea (OSA). Hal ini merupakan hambatan bernapas yang dipengaruhi oleh posisi saat tidur, sehingga penderita sering terbangun dalam tidurnya. Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan gangguan lainnya seperti kurang bersemangat saat beraktivitas, mudah lelah, dan menurunnya imunitas. Banyaknya lemak juga menyebabkan tubuh terasa berat dan lekas capai, sehingga cenderung mengurangi aktivitas, yang justru akan semakin menambah jumlah lemak yang disimpan karena kurangnya aktivitas.

Secara imunologi dan histokimia, sel lemak ternyata bersifat seperti sel kelenjar, yang dapat menghasilkan hormon-hormon, sekaligus mengeluarkan zat kimia penanda peradangan. Dengan menumpuknya cadangan lemak, maka tubuh seperti berada dalam kondisi peradangan ringan secara terus-menerus, sehingga akan memberikan efek ke seluruh tubuh. Dari sinilah mengapa obesitas dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan mulai yang ringan sampai yang sangat serius. Asupan berlebihan dalam jangka waktu lama juga berpotensi membuat reseptor hormone insulin menjadi “lelah”, sehingga tidak sensitive lagi terhadap keberadaan gula darah yang tinggi, dan menjadikan penderita obesitas jatuh ke dalam kondisi diabetes melitus.

Oleh karena itu, jika sudah mulai mendapati kondisi pengukuran yag abnormal, baik IMT maupun LP, sangat disarankan untuk segera melakukan modifikasi perilaku dan gaya hidup. Mulailah gaya hidup yang lebih sehat dengan menjaga pola asupan seimbang, kurangi junk food, perbanyak konsumsi sayur dan buah, cukup asupan air dan serat, berolahraga rutin, tidak merokok, hindari stres, banyak berdoa, serta cukup beristirahat.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + six =